Sejarah Jembatan Merah Plaza

Jembatan Merah merupakan salah satu monumen sejarah di Surabaya, Jawa Timur yang dibiarkan seperti adanya sebagai jembatan. Kawasan ini menjadi daerah perniagaan yang mulai berkembang sebagai akibat dari Perjanjian Paku Buwono II dari Mataram dengan VOC pada 11 Nopember 1743 yang isinya menyatakan bahwa sebagian daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan penguasaannya kepada VOC. Sejak saat itulah Surabaya berada sepenuhnya dalam kekuasaan Belanda.
Masa kini, posisi Jembatan Merah sebagai pusat perniagaan terus berkembang. Di sekitar jembatan ini berdiri pusat perbelanjaan Jembatan Merah Plaza (JMP) yang kokoh dan menjadi jujukan para pedagang dan pembeli dari seantero kota - bahkan dari luar kota. Di Jalan Rajawali yang berada tepat di barat Jembatan Merah juga masih berdiri kokoh Hotel Ibis Surabaya. Sejumlah perkantoran dan bank juga ada. Tak hanya itu, Jembatan Merah juga dekat dengan bekas bangunan LP Kalisosok, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi penyiksaan para pejuang.
Jika Anda tengah mengunjungi Kota Surabaya, rasanya belum lengkap jika tidak mengunjungi wisata sejarah Jembatan Merah. Di atas sungai yang mengalir, akan terasa sebuah sensasi bahwa disini, di jembatan ini, pertumpahand arah melawan sekutu telah terjadi. Awalnya Jembatan Merah ini bangunan fisiknya terbuat dari kayu. Namun pada sekitar tahun 1980-an, Pemerintah Kota Surabaya mengubah konstruksi pagar pembatasnya dari kayu menjadi besi. Agar tidak kehilangan ciri khasnya, jembatan ini secara keseluruhan dicat warna merah. Secara fisik, bentuknya memang tidak berbeda dengan jembatan-jembatan lain, warna merah itulah yang menjadi pembeda.
Salah seorang wisatawan Belanda, Van Jork, pernah mengatakan, keberadaan Jembatan Merah saat dikuasai VOC sangat vital. Jembatan ini menjadi sarana penghubung transportasi yang sangat penting sehingga keberadaannya begitu diperhatikan pemerintah. Tidak heran jika kemudian di ujung barat jembatan, gedung karesidenan Surabaya dibangun. Tujuannya tak lain agar pemerintah saat itu bisa mengawasi langsung kebersihan dan ketertiban di sekitar area Jembatan Merah. Di sekitarnya pun, kantung-kantung tempat tinggal, pada zaman dahulu dibuat terpisah-pisah. Di sebelah barat gedung karesidenan, dulu tinggal orang-orang Eropa. Di Jalan Kembang Jepun, menjadi area tinggal orang-orang China dan di sisi utara tepatnya di kawasan Kampung Ampel berhuni orang-orang keturunan Arab dan Melayu. Praktis, Jembatan Merah menjadi kawasan multi etnis, yang hingga kini tetap dapat hidup berdampingan. Saling menghormati satu sama lain. Meski kini hanya tersisa etnis China di Kembang Jepun dan Arab di kawasan Kampung Ampel namun terbukti hingga saat ini kedua etnis tersebut dapat hidup berdampingan tanpa konflik.(ak)

0 Response to "Sejarah Jembatan Merah Plaza"

Posting Komentar